Senin, 05 November 2012

SARANA DAN PRASARANA

Akomodasi

Sebagai penunjang sektor pariwisata di Kabupaten Barito Utara, tak kalah pentingnya adalah ketersediaan akomodasi yang memadai. Di wilayah ini sudah tersedia fasilitas hotel dan losmen, termasuk restoran dan rumah makan. Ada pun hotel dan losmen yang ada di Kabupaten Barito Utara, dapat disebutkan seperti Hotel Teweh Raya, Barito, Marindu, Pasific, A. Kencana, Sumber Rejeki dan Hotel Butong Danum, yang semuanya terdapat di Jalan Panglima Batur, Hotel Gunung Sintuk, Matahari dan Hotel Walet di Jalan Tumenggung Surapati, Hotel Nusantara di Jalan Yetro Sinseng, serta Hotel Handayani, Amuntai, dan Hotel Hendra, yang terdapat di wilayah Kandui Gunung Timang..
Fasilitas penting lainnya adalah ketersediaan sambungan telekomunikasi, baik lokal maupun internasional yang juga sudah memadai. Saat ini, seperti halnya daerah lain, di Kabupaten Barito Utara tersedia fasilitas komunikasi, baik berupa pelayanan jasa pos dan giro, telepon, facsimile, jaringan internet dan fasilitas telekomunikasi lainnya. Kini, akses komunikasi menjadi relatif mudah dan praktis setelah jaringan telepon genggam (selular) juga merambah ke wilayah ini.
Begitu pula peningkatan pelayanan kesehatan tidak lepas dari perhatian pemerintah kabupaten, dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. Jumlah fasilitas kese­hatan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, baik berupa R-umah Sakit, Puskesmas, Puskemas Pembantu, Puskesmas Keliling serta Balai-balai Pengobatan. Untuk tenaga kesehatan, hampir di semua kecamatan sudah terdapat tenaga dokter umum, dokter gigi, perawat, yang jumlahnya terus menunjukkan peningkatan serta siap melayani masyarakat termasuk kalangan wisatawan.
Walaupun begitu, toh diakui bahwa ketersediaan sarana akomodasi seperti disebutkan di atas, terasa belum memadai untuk mengantisipasi melonjaknya arus wisatawan yang datang dan berkunjung ke Barito Utara. Dalam konteks inilah, sebetulnya muncul peluang usaha atau investasi di bidang akomodasi guna memenuhi keseimbangan atas melonjaknya permintaan sektor pariwisata.
Menyadari keterbatasan itulah, maka Pemerintah Kabupaten Barito Utara akan terus meningkatkan standar mutu akomodasi dan transportasi yang telah ada, guna memberi kenyamanan kepada wisatawan. Peningkatan ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi masuknya dunia kepariwisataan nasional dalam lingkup sebuah industri, yang diharapkan berimbas ke seluruh wilayah Indonesia, di mana pada akhirnya mendatangkan devisa yang cukup penting bagi suatu daerah.

Transportasi

Kompleksitas unsur transportasi atau perhubungan memegang peranan sangat penting dalam sektor pariwisata. Karena itu, mengutip pendapat Clare A. Gunn dalam bukunya, Tourism Planning (1979), di mana dalam perencanaan pariwisata bahwa transportasi yang ia sebut unsur akses^ menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah prinsip perencanaan pariwisata, selain unsur pengelompokan, day a tank, ketergantungan SDA, populasi, kapasitas, kota-kota, iklim pembangunan sosial, fleksibilitas, jenis-jenis parimsata, orang-orang, serta keanekaragaman.
Unsur transportasi atau akses perhubungan ini, masih menurut Clare A. Gunn, merupakan akses masuk dan keluar pada kawasan yang mempunyai daya tarik hendaknya direncanakan sebagai bagian integral dari pembangunan. Di sinilah pentingnya bagi jaringan jalan raya bebas hambatan (tol) dan jaringan penerbangan ke kawasan tempat tujuan wisata.
Sebab itu, untuk menunjang pengembangan bisnis pariwisata, sarana dan prasarana pendukung ini merupakan faktor penting, selain adanya daya tarik, aksesibilitas serta promosi secara ajek dan kontinyu. Sektor transportasi (perhubungan), baik darat, laut maupun udara, sangat diper-lukan dalam mewujudkan mobilitas serta arus wisatawan berkunjung, dari dan ke daerah tujuan wisata. Dalam konteks ini, Kabupaten Barito Utara, kendatipun daerahnya agak menjorok ke wilayah pedalaman, namun sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Provinsi Kalimantan Tengah, daerah ini relatif memiliki aksesibilitas yang baik, misalnya melalui transportasi darat (bus, travel, mobil pribadi, sepeda motor, dan kin-lain), maupun transportasi sungai (perahu bermotor, speed­boat, perahu, dan lain-lain) dan transportasi udara. Tiga lintas jalur transportasi itu semuanya ditujukan untuk memperlancar arus barang dan jasa dari satu tempat ke tempat lain, meningkatkan mobilitas manusia ke daerah tujuan, termasuk berperan penting bagi aksesibilitas industri pariwisata.
Misalnya, dari kota air Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Kabupaten Barito Utara relatif mudah dicapai, meski jaraknya cukup jauh yakni sektar 425 kilometer ke arah utara. Akses jalan darat yang menghampar mulus, meski pun sebagian masih ada yang rusak ringan dan berat (terutama di musim penghujan), relatif memudahkan wisatawan datang berkunjung. Begitu pun perhubungan lewat jalur udara, bisa ditempuh melalui Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, atau Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, langsung ke Bandara Beringin, Muara Teweh (ibukota Kabupaten Barito Utara). Sementara akses transportasi perairan/sungai, dapat ditempuh menyusuri Sungai Barito dari Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin dan pelabuhan/dermaga di kota Palangkaraya.
Ada pun jaringan jalan-jalan darat yang ada di Kabupaten Barito Utara saat ini, menurut statusnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Jalan Negara
Jalan Negara ini kondisi permukaannya berkualitas sedang sepanjang 227,20 kilometer, rusak 247,90 kilometer, dan rusak berat 64.60 kilometer. Saat ini, Jalan Negara merupakan poros penghubung yang sangat vital dalam menggulirkan roda perekonomian masyarakat di Kabupaten Barito Utara, terutama yang datang dan pergi dari Palangkaraya, Banjarmasin, Tamiang Layang, hingga melintasi kota Muara Teweh. Transportasi melalui jalan darat (Jalan Negara) dari Banjarmasin ke Muara Teweh dapat ditempuh sekitar 8 hingga 10 jam lamanya, dengan jarak tempuh sekitar 425 kilometer.
Jalan Kabupaten
Jalan Kabupaten yang dikategorikan dalam kondisi baik sepanjang 86,58 kilometer, kondisi rusak sepanjang 229,30 ki­lometer, dan rusak berat sepanjang 63,40 kilometer. Secara keseluruhan, panjang jalan di Kabupaten Barito Utara membentang sepanjang 4.252,73 kilometer, termasuk di antaranya jalan yang dipergunakan oleh perusahaan HPH untuk mengangkut kayu hasil hutan. Jalan sepanjang itu yang sudah dilakukan pengerasan (aspal) khususnya di sekitar Muara Teweh, sementara jalan-jalan yang menghubungkan antar-kecamatan masih sangat terbatas dan kondisinya masih banyak yang rusak. Dalam konteks pengembangan pariwisata daerah ini, maka kondisi jalan yang ada tersebut menjadi salah satu perhatian serius pemerintah kabupaten, kendatipun di sisi lain, dana yang dialokasikan juga sangat terbatas.
Mengindentifikasi permasalahan klasik transportasi daerah ini, maka Pemerintah Kabupaten Barito Utara telah mengkategorikan unsur transportasi (perhubungan) menjadi salah dari tujuh strategi dan prioritas pembangunan, yaitu bidang infrastruktur/prasarana pembangunan wilayah.
Pembangunan jasa pelayanan infrastruktur/prasarana wilayah harus ditempuh melalui kebijakan rehabilitasi dan perbaikan prasarana yang dimiliki, berdasarkan pertimbangan perekonomian saat ini. Prasarana perhubungan ini selain ber-tujuan untuk perluasan akses kepariwisataan, juga diarahkan pada langkah penyediaan jasa prasarana yang mendukung kegiatan produksi rakyat dan peningkatan nilai tambah produksi (added value) serta memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, terutama bagi golongan ekonomi berpenghasilan lemah.
Pembangunan jasa perhubungan ini juga mempertimbang-kan rasa keadilan dan kepentingan sosial lainnya, sehingga harus tetap mempertimbangkan kemampuan konservasi daya dukung alam dan lingkungan hidup yang ada di daerah ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar